Pasar Smartphone Indonesia Bertahan di Tengah Pandemi

Survei lembaga IDC Indonesia memperkirakan pasar ponsel pintar di Indonesia hendak berkembang dekat 20 persen tahun ini. Studi IDC Indonesia menampilkan pada kuartal keempat 2020 ada perkembangan tahunan sebesar 1 persen walaupun pasar ponsel pintar pernah tertekan sebab pandemi virus corona sejauh tahun kemudian.

Informasi IDC, pengiriman ponsel di Indonesia menggapai 11, 7 juta unit pada kuartal terakhir tahun kemudian.

” Pasar smartphone Indonesia sanggup bertahan di tengah pandemi Covid- 19 yang mengganti gimana metode orang berhubungan. Kebutuhan hendak smartphone melonjak, baik itu buat menunjang Work- from- Home, Home- based- Learning, layanan streaming hiburan, ataupun hanya berbicara secara virtual,” kata analis pasar IDC Indonesia, Riksy Febrian, dalam penjelasan pers, dilansir Selasa( 16/ 3).

Pasar ponsel Indonesia pernah turun ekstrem pada 6 bulan awal 2020, sebanyak minus 18 persen secara year- on- year, sebab karantina daerah. Pemulihan di zona ini berlangsung kilat, semester kedua ada pertumbungan 19 persen secara year- on- year.

Pemulihan pasar ponsel pintar diakibatkan kebutuhan memakai ponsel buat menunjang bermacam aktvititas yang wajib dicoba dari rumah. Energi beli warga yang lebih rendah mendesak perkembangan ponsel segmen pendatang baru, berkisar di angka 100 sampai 200 dolar Amerika Serikat ataupun dekat Rp 1, 4 juta sampai Rp 2, 9 juta tips dan trik teknologi .

Pangsa pasar ponsel murah di Indonesia menggapai 65 persen tahun kemudian, naik dibanding tahun 2019 yang sebesar 45 persen. IDC mencatat pangsa pasar ponsel terbanyak di Indonesia pada kuartal keempat 2020 dipahami oleh vivo, sebesar 23, 3 persen. Merek ini berjaya di kelas ponsel murah dengan lini seri Y.

Pada posisi kedua, cuma terpaut tipis, diduduki OPPO dengan pangsa pasar 23, 2 persen. ID Indonesia memandang OPPO kokoh di segmen menengah, 200- 400 dolar AS ataupun dekat Rp 2, 9 juta sampai Rp 5, 8 juta, lewat seri A serta Reno.

Xiaomi menduduki peringkat ketiga dengan pangsa pasar 15, 3 persen, yang bagi IDC memperoleh akibat positif dari regulasi IMEI. Merek ini memperluas pangsa pasar di segmen menengah lewat Redmi Note 9 Pro serta sub- merk POCO.

Merek realme menduduki posisi keempat, pangsa pasarnya sebesar 14 persen. IDC memperhitungkan perkembangan realme di tiap kuartal terkategori sehat walaupun juga pernah terkendala pasokan.

Samsung terletak di posisi kelima, dengan pangsa pasar 13, 5 persen. Mereka menguatkan posisi mereka di segmen ultra low- end, ialah di dasar 100 dolar AS, serta pendatang baru lewat seri A.

Segmen ultra low- end serta pendatang baru Samsung menyumbang 2 pertiga dari total pengiriman merek tersebut pada 2020 kemudian. IDC pula memandang Samsung kesusahan bersaing di jenis menengah.

Baca Juga : Pencahayaan Lampu Gantung Mempercantik Desain Interior Anda

Survei IDC Indonesia pula menampilkan pengaruh regulasi International Mobile Equipment Identity( IMEI) menampilkan hasil yang positif buat pasar ponsel di Indonesia. Paling utama meminimalisasi peredaran smartphone ilegal.

” Pelaksanaan regulasi pendaftaran International Mobile Equipment Identity( IMEI) pula terus menampilkan hasil yang positif, dengan meminimalisir peredaran smartphone ilegal di pasaran,” kata Riksy Febrian.

Ia memperkirakan regulasi IMEI yang berlaku efisien semenjak tahun kemudian dapat berfungsi besar buat pemulihan pasar ponsel pintar tahun ini serta tahun- tahun mendatang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *